Sosial Politik

Minggu, 17 Mei 2015

TUGAS MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH



 TUGAS MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH
(MULIADI.,S.AP)

Manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak bisa lepas dari pengetahuan Yang Maha Kuasa Allah SWT. Ketergantungannya kepada Zat Yang Maha Kuasa itu sebenarnya sudah menjadi naluri manusia. Seprimitif dan semodern apapun zaman yang dialami manusia ia tetap mengakui adanya kekusaaan yang maha kuasa di luar dirinya. Ini membuktikan bahwa bagaimanapun juga –dengan keterbatasan yang dimiliki—manusia membuktikan bahwa ia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk beragama.
Allah SWT berfirman :
فأقم وجهك للدّين حنيفا فطرة الله الّتي فطر النّأس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدّين القيّم ولكنّ اكثر النّاس لا يعلمون (الرّوم 30)
Maka hadapkanlah wajahmu kepada Agama (Allah) ; tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah (Agama) itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS Ar-Rum [30]:30).
Berdasarkan ayat di atas, bahwa bagaimanapun primitifnya suatu suku bangsa manusia, mereka tetap mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa di luar dirinya, kepercayaan ini diaplikasikannya dalam bentuk penyembahan meskipun sebatas cara yang sangat sederhana. Allah berfirman :
وما خلقت الجنّ والانس الاّ ليعبدون (الذّاريات 56)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, malainkan supaya mereka menyembah-Ku (Q Az-Zariyat [51]:56).
Seperti telah diutarakan pada bab II bahwa telah terjadi dialog antara Allah  dengan manusia pada waktu manusia masih berada di alam rahim sebagaimana dilukiskan Allah dalam Al-Quran surat al-A’raf [7]:172)
واذ اخذ ربّك من بنى آدم من ظهورهم ذرّيّتهم واشهدهم على انفسهم الست بربّكم قالوا بلى شهدنا ان تقولوا يوم القيمة انّأ كنّا عن هذا غافلين (الاعراف 172)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari punggung mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?. Mereka (anak-anak Adam) menjawab :betul (Engkau Tuhan kami) , kami menjadi saksi” …. (QS Al-A’raf [7]:172).
Ayat ini menunjukan bahwa dalam diri setiap manusia ada fitrah keagamaan serta pengakuan akan adanya keessaan Allah. Hakikat ini sejalan dengan firman Allah di atas. Setiap orang memiliki fitrah itu, walaupun seringkali –karena kesibukan dan dosa-dosa—suara fitrahnya begitu lemah atau tidak terdengar lagi. Firaun sendiri yang tadinya mengingkari Allah dan keesaan-Nya akhirnya percaya ketika ruhnya telah akan meninggalkan jasadnya. Ini diuraikan Allah dalam al-Quran surat Yunus [10]:90 yang artinya  : ….hingga saat Firaun telah hampir tenggelam, berkatalah dia  “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan  melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri kepadaNya (kepada Allah).
Adanya naluri kepercayaan manusia kepada Zat Yang Maha Kuasa juga akan diikuti dengan adanya naluri tunduk dan patuh kepada-Nya. Kepatuhan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk ketundukan dan pengbdian kepada-Nya. Dengan demikian ketundukan dan kepatuhan kepada zat yang maha Kuasa itu merupakan tabiat asli  (fitrah) manusia sebagai nilai ibadah kepada-Nya.
Namun demikian, pengenalan dan pengabdian yang dilakukan manusia sebagai manifestasi kepatuhan kepada Tuhannya hanya berdasarkan akal budi saja. Mengenai cara dan bagaimana beribadah, kapan dan di mana manusia melakukan ibadah, mereka tidak mampu menentukan hal itu. Oleh karena itu Allah mengutus Rasu-rasul-Nya untuk menyampaikan wahyu-wahyu Allah dalam bentuk kitab suci yang diberikan kepadanya. Ini menunjukan kasih sayang Allah kepada manusia. Sehingga manusia dapat melaksanakan pengabdiannya sesuai dengan aturan yang dikehendaki Allah. Dari sini dipahami, bahwa manusia merupakan mahluk pengabdi yang eksistensi dirinya hanya dapat terwujud dengan sempurna melalui pengabdian kepada Penciptanya.
Untuk itulah Allah mengutus para Rasul-Nya sebagai pemberi petunjuk kepada manusia, mana subtansi dan arah yang mereka tuju sebenarnya. Melalui naluriyah yang dimiliki pengakuan akan adanya Zat yang menguasainya, akal, dan bimbingan wahyu (ajaran agama) yang disampaikan dengan perantaraan rasul, manusia diharapkan mampu mengenal Khaliqnya lewat pengabdian yang ditunjukan dalam semua aspek kehidupan ini.

FILSAFAT ILMU


FILSAFAT ILMU

ilmu ( science ) adalah cabang dari pengetahuan ( knowledge ) ilmu = pengetahuan yang bersifat ilmiah ( scientific knowledge ) kategori pengetahuan :
1.pengetahuan tentang apa yang baik dan buruk ( etika )
2.pengetahuan tentang apa yang indah dan jelek (estetika )
3.pengetahuan tentang apa yang benar dan salah ( logika )
logika : cara berfikir menurut aturan tertentu dalam kegiatan keilmuan, logika ( aktivitas berfikir yang teratur ) diikuti dengan penuh kedisiplinan ilmu pengetahuan muncul akibat kekaguman manusia atas fenomena alam dan sosial yang selalu dihadapinya proses berfikir : 1.berfikir rasional – proses untuk mendapatkan pemahaman dan pengetahuan dengan menggunakan akal-budi 
2.berfikir logikal – proses untuk mendapatkan pemahaman dan pengetahuan dengan menggunakan teknik berfikir yang telah ditetapkan dalam aturan logika formal 
3.berfikir dialektis – proses menetapkan tesis dan anti tesis untuk memperoleh sintesis 4.berfikir intuitif – proses untuk mendapatkan pengetahuan dengan segera tanpa terlalu memperdulikan prosedur dan langkah untuk sampai pada pengetahuan tersebut
 5.berfikir taksonomis – proses untuk memperoleh pengetahuan dengan menyusun klasifikasi, tujuannya adalah menyederhanakan fenomena dan gejala dalam kategori 
6.berfikir simbolis – proses untuk memperoleh pemahaman dan pengetahuan dengan melihat fenomena sebagai lambang ( simbol ) ilmu ( pengetahuan ilmiah ) tidak bertujuan untuk mencari kebenaran absolut, melainkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu untuk memperoleh kebenaran bisa dicapai dengan dua cara : non-ilmiah dan ilmiah :’ non-ilmiah : 
1.akal-sehat ( common sense ) – yaitu menyusun dan membuat generalisasi atas fenomena dengan menggunakan akal-sehat; 
2.prasangka ( presumption ) – memperoleh pengetahuan dengan membuat generalisasi yang sangat luas sehingga timbul sangka/dugaan kebenaran atas suatu fenomena 
3.intuisi ( intuition )- pengetahuan yang diperoleh secara cepat yang tidak didasari oleh perenungan yang mendalam atau tidak difikirkan terlebih dahulu 
4.penemuan kebetulan / coba-coba – pengetahuan yang diperoleh tanpa rencana, tidak pasti, dan tidak melalui langkah-langkahyang sistematik dan terkendali 
5.pendapat otoritas ilmiah dan fikiran kritis – pendapat yang berasal dari orang yang mempunyai otoritas keilmuan ( berpendidikan ) yang tinggi seringkali diterima tanpa diuji karena telah dianggap benar ilmiah : upaya untuk memperoleh kebenaran lewat pendekatan / penelitian ilmiah yaitu penelitian yang sisitematik dan terkontrol berdasar atas data empiris, obyektif dan tidak bias tugas ilmu adalah untuk : 
1) mencandra / membuat deskripsi; 
2) menerangkan / eksplanasi; 
3) menyusun teori; 
4) membuat prediksi, estimasi dan proyeksi; 
5) melakukan pengendalian kriteria kebenaran koherensi korespondensi pragmatis logika deduktif logika induktif logika pragmatis * plato * aristoteles suatu pernya-taan dianggap benar apabila pernyataan itu koheren / konsis-ten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. misalnya : “semua manusia pasti akan mati. si fulan adalah manusia dan pasti ia akan mati ” *bertrand russel suatu pernya-taan adalah benar bila pernyataan itu berkores-pondensi dengan obyek yang di- tuju oleh per-nyataan tersebut. misal-nya : “ibukota ri adalah jakarta”. itu adalah suatu pembuktian secara empirik dalam bentuk pengumpulan fakta-fakta yang mendukung pernyataan tertentu. * charles pierse suatu pernya-taan adalah benar bila pernyataan atau konsekwensi dari pernyataan itu mempunyai kegu-naan praktis da-lam kehidupan manusia. misal-nya : “dengan di beri ganjaran / hadiah si murid akan termotivasi belajar dengan baik “ filsafat ilmu sebagai salah satu cabang ilmu filsafat adalah merupakan kegiatan merefleksi secara mendasar dan integral mengenai hakekat ilmu pengetauan ( kunto wibisono : 1999 )
 obyek filsafat ilmu adalah merupakan tiang-tiang penyangga eksistensi lmu pengetahuan yang meliputi ; 
1) ontologi ; 
2) epistemologi ; dan 
3) aksiologi ontologi : 
mengkaji apa hakekat sesuatu itu ? faham-faham seperti idealisme, spiritualisme, materialisme dsb. adalah merupakan filsafat ontologi. epistemologi : mengkaji tentang bagamana cara yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan, apa sarananya dan apa ukuran yang dipakai untuk memperoleh kebenaran ? faham-faham rasionalisme, empirisme, kritisisme, positivisme dan fenomenalogisme termasuk ke dalam filsafat epistemologi. aksiologi : mengkaji tentang nilai ( value ) sebagai imperatif dalam penerapan dan pemanfaatan ilmu secara praksis. source : based on firestone (1987); guba & lincoln (1988); and mc craken (1988) pertanyaan “ apakah ilmu itu bebas nilai ( value free ) ataukah sarat dengan nilai ( value bound ) ? kunto wibisosno (1999) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan sebagai satu kesatuan menampakkan diri secara dimensional : 
1) sebagai masyarakat – adanya sekelompok elit yang dalam kehidupannya mendambakan kewajiban dan tanggungjawab; 
2) sebagai proses – adalah aktifitas masyarakat ilmiah seperti penelitian, seminar, percobaan dsb. mencari dan menemukan sesuatu hasil yang pragmatis ; dan 
3) sebagai produk – menunjukan hasil-hasil yang berupa karya ilmiah, teori-toeri, paradigma-paradigma beserta hasil terapannya yang berupa teknologi. ilmu sebagai produk adalah bebas nilai ; sedangkan ilmu sebagai masyarakat dan proses yang selalu berada dalam konteks selalu terikat oleh nilai. ilmu sebagai produk pun, sebenarnya apabila diterapkan secara praktis untuk mencapai tujuan secara implisit sudah dikendalikan oleh nilai ! 
aliran-aliran utama epistemologi ilmu 
1.positivisme auguste comte upaya menggeneralisasi rerata 
1.1.grand theory ‘ hukum tiga tahap perkembangan ‘ , perkembangan pemikiran manusia terbagi menjadi tiga tahap : 
1) tahap teologis atau fiktif; 
2) tahap metafisik atau abstrak; 
3) tahap positif atau riil 
1.2.menolak teologi dan metafisik karena keduanya dinilai primitif 
1.3.lebih didasarkan pada penelitian empirik daripada spekulasi filosofik 
1.4.ilmu yang valid adalah ilmu yang dibangun dari empiri menuju kebenaran ‘empiri sensual’ 1.5.mengembangkan metodologi ’nomotetik/aksiomatik’ 
1.6.metodologi penelitian kuantitatif 
1.7.pendekatan positivistik dengan : 
a) menggunakan pola pikir kuantitatif yang terukur, teramati, empiri sensual, logika matematik dan bertujuan membuat generalisasi atas rera-ta ; 
b) menggabungkan olahan statistik dengan olahan verbal dengan pola pikir kuantitatif 1.8.kebenaran dicari lewat pola pikir relasi ( korelasional, sebab-akibat, interaktif ), yang : secara ontologik melihat realitas dapat dipilah-pilah dan dapat dipelajari secara independen dan dielimina-sikan dari obyek yang lain dan dapat dikontrol secara epistemologik menuntut dikotomi antara peneliti dengan obyek penelitian agar diperoleh hasil yang obyektif. tujuan penelitiannya adalah membangun ilmu nomotetik/aksiomatik yakni ilmu yang membuat hukum dari generalisasi reratanya secara aksiologik pendekatan positivisme prosesnya harus bebas nilai ( value free ), dan yang dikejar adalah ‘obyektivitas’ agar dapat disajikan prediksi/hukum yang keberlakuannya bebas waktu dan tempat ( spatio-temporal ) 
2. rasionalisme descartes upaya untuk memperoleh esensi / kebenaran apriori bersifat solipsistik ( hanya benar menurut kerangka fikir tertentu ) dan subyektif 
2.1semua ilmu berasal dari pemahaman intelektual manusia yang dibangun atas kemampuan berargumentasi secara logis, bukan dibangun atas pengalaman empiri tetapi menekankan pada pemaknaan empiri yang didukung oleh data empirik yang relevan 
2.2kegiatan berargumentasi dan memberi makna selalu didahului dengan uji empirik secara terus-menerus 
2.3 ilmu yang valid merupakan abstraksi, simplifikasi atau idealisasi dari realitas dan terbukti relevan atau koheren dengan sistem logiknya 
4.1realitas tidak dapat/tidak mudah dihayati secara sensual saja sehingga diatas empiri sensual ada emperi logikal / teroritikal dan diakui adanya penghayatan manusia mengenai nilai baik dan buruk ( pengakuan atas empiri sensual, logikal dan etikal ) 
2.5penelitian dengan pendekatan rasionalisme : 
a) menuntut sifat obyek yang holistik;
 b) obyek penelitian tidak dilepaskan dari konteksnya atau paling jauh obyek diteliti dalam fokus atau tekanan tertentu 
2.6mengejar diperolehnya generalisasi atau hukum-hukum ( nomotetik/aksiomatik ) tetapi bedanya dengan positivisme yang bertolak dari obyek yang spesifik, sedangkan rasionalisme bertolak dari konstruksi ‘teori besar’ atau ‘konsep besar’ dan obyek yang holistik 
2.7selain mengenal pola fikir relasional ( korelasional, sebab-akibat, interaktif ) juga pola fikir genetik , historik, antisipatik, reflektif, kontekstual dan eklektik 
2.8mengakui kekuatan fikir manusia untuk memberikan makna pada lingkungan dan pada diri manusia 
2.9secara ontologik rasionalisme melihat realitas tidak pilah dari konteks totalitasnya dan mengakui tiga macam empiri : 
sensual, logikal dan etikal secara epistemologik rasionalisme berupaya mencari kebenaran dengan menggunakan ketiga empiri tersebut untuk mengkontruksi teori tertentu. rasionalisme lebih mengarah ke adanya monoisme teoritik daripada pluralisme teoritik secara aksiologik rasionalisme tidak hanya ingin memperoleh ilmu yang nomotetik / aksiomatik tetapi juga generalisasi harus merupakan hasil uji makna empirik dan reflektif 
3. empirisisme john locke menekankan pentingnya pengalaman ( kebenaran aposteriori ) 3.1pengetahuan diperoleh lewat pengalaman inderawi manusia 
3.2pengetahuan diperoleh dengan jalan menggunakan dan membandingkan gagasan-gagasan yang diperoleh dari penginderaan dengan refleksinya 
3.3berbeda dengan positivisme, akal manusia hanya merupakan tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil penginderaan manusia 
3.4gejala-gejala alamiah bersifat konkret dan diungkap lewat penginderaan dan bila ditelaah lebih lanjut akan menghasilkan pengetahuan dengan karakteristik tertentu ( logam akan mengembang bila dipanaskan ) 
3.5menggunakan cara berfikir induktif 
3.6fakta adalah nyata karena dapat ditangkap dengan indera manusia 
3.7secara ontologik realitas ( kebenaran ) itu adalah merupakan bentuk dari pengalaman manusia; secara epistemologik empirisisme lebih menekankan pentingnya empiri sensual dan pengetahuan dibentuk atas dasar pengalaman inderawi manusia; dan secara aksiologik empirisisme mengakui adanya kebenaran empiri sensual dan kurang memberi nilai pada peran empiri logikal 
4. fenomenologisme edmund husserl upaya memahami ‘makna‘ peristiwa dan interaksi manusia pada situasi tertentu 
4.1ilmu tidak terbatas pada hal yang empirik sensual saja tetapi juga mencakup pelbagai fenomena seperti : persepsi, pemikiran, kemauan dan keyakinan subyek tentang sesuatu diluar dirinya, ada yang transenden selain juga yang aposteriorik 
4.2menuntut pendekatan holistik, mendudukkan obyek penelitian dalam suatu konstruksi ganda dan melihat obyeknya dalam suatu konteks natural dan parsial 
4.3melihat obyek dalam konteksnya dan menggunakan tata fikir logik lebih dari sekedar berfikir linear-kausal 
4.4bertujuan membangun ilmu idiografik ( kasus individual ) dan bukannya ilmu nomotetik / aksiomatik
 4.5hasil penelitian fenomologis keabsahannya dikaji lewat uji : kredibilitas ; transferabilitas ; dependabilitas ; dan konfirmabilitas , yang mirip dengan validitas internal, validitas eksternal, reliabilitas dan obyektifitas pada ancangan positivisme 4.6secara ontologik fenomenologisme melihat realitas itu kompleks, tertata, punya berbagai perspektif dan saling berhubungan secara interaktif serta selalu terkait dengan waktu dan konteks secara epistemologik fenomenologisme menuntut menyatunya ( bukan pilah ) peneliti dengan obyek penelitiannya. interaksi obyek-subyek bukanlah merupakan hubungan yang bersifat kausalitas-linear, tetapi hubungan timbal-balik heterarkhik, indeterminatif dan morphogenik , mutual shaping . 
teori dan fakta ditentukan oleh nilai , yaitu : 
1) nilai dari pihak peneliti itu sendiri; 
2) nilai dalam konteks kultural obyek penelitiannya; 
3) nilai yang terjabarkan dalam substansi penelitian; 
4) nilai yang terjabarkan pada metodologi penelitian. 
secara aksiologik fenomenologisme mengakui adanya kebenaran empiri etikal ( value bound / value laden ) dan mengenal pula kebenaran transendental, sensual dan logikal. perang tanding antara epistemologi rasionalisme ( yang lebih mengedepankan empiri logikal ) melawan empirisisme ( yang lebih mementingkan empiri sensual ) dicoba ditengahi oleh immanuel kant dengan faham fenomenalisme. kedua faham, rasionalisme yang cenderung berpola fikir apriorik dan empirisisme yang berpola fikir aposteriorik dinilai kant keduanya timpang atau berat sebelah. ia menegaskan bahwa pengetahuan manusia merupakan perpaduan dan sintesis antara komponen apriori dan aposteriori. metode ilmiah ( j.s. suriasumantri, 1985 ) deduksi koherensi pragmatisme induksi korespondensi.

profesionalisme kerja pegawai terhadap efektifitas pelayanan publik

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Pembangunan  di  Indonesia  dimaksudkan  untuk  mewujudkan  cita-cita
nasional, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum  dan  mencerdaskan  kehidupan  bangsa.  Pesatnya  pembangunan  nasional
dalam segala bidang era reformasi ini memerlukan tenaga kerja yang handal.
Artinya  tenaga  kerja  yang  dapat  meneruskan  kesinambungan  pembangunan
nasional melalui peningkatan sumber daya manusia yang ada secara profesional.
Profesionalisme membutuhkan tenaga kerja  yang berdedikasi tinggi, moralitas
yang baik, loyalitas terjamin dan mempunyai disiplin kerja yang tinggi.
Pelaksanaan  pembangunan  mengikutsertakan  pegawai  atau  aparatur
pemerintah  bersama  rakyat  memegang  peranan  penting  yaitu  sebagai  pelaksana
dalam  menjalankan  pembangunan  dan  sebagai  penggerak  laju  pembangunan
disegala  bidang.  Peranan  pegawai  atau  aparatur  negara  sangat  dituntut  dalam
menjalankan tugas dibidang masing-masing untuk lebih ulet, terampil, cekatan,
berdedikasi tinggi dan menuju kepada suatu efisiensi untuk dapat mencapai tujuan
nasional  yaitu  mewujudkan  masyarakat  adil  dan  makmur  yang  merata  dan
berkesinambungan baik materil maupun spiritual.
Pembangunan dan  pengembangan  sumber  daya  manusia  adalah  satu
kesatuan yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain. Dimana pembangunan dapat
terlaksana  dengan  baik  apabila  sumber  daya  manusianya  memadai,  baik  itu
pembangun skala national maupun regional, begitupun dalam suatu organisasi.
2
Kehidupan suatu organisasi secara mendasar adalah sangat ditentukan oleh
adanya  manusia  dan  segenap  sumber  dayanya.  Manusialah  yang  dapat
menggerakkan suatu organisasi dengan menghubungkan segenap tenaga, pikiran,
bakat,  kreativitas  dan  berupaya  demi  keberlangsungan  kehidupan  organisasi
tersebut. Manusia adalah sumber daya yang memiliki nilai tertinggi bagi setiap
organisasi, karena dapat memberikan manfaat yang besar sekali bila penggunaan
tenaga manusia secara tepat guna.
Organisasi secara mendasar merupakan suatu wadah atau tempat dimana
suatu tujuan  dirumuskan yang kemudian diimplementasikan. Jadi suatu organiasi
tidak bisa dipisahkan dengan faktor manusia dan tujuan yang hendak dicapai.
Tujuan  yang  akan  dicapai  suatu  organisasi  sangat  dipengaruhi  oleh  kualitas
pegawai atau sumber daya yang ada dalam organisasi tersebut. Manusia sebagai
sumber daya adalah penggerak organisasi. Organisasi tidak akan berfungsi tanpa
manusia, tanpa manusia tidak ada organisasi. Dengan demikian manusia adalah
faktor penentu dari sebuah tujuan yang diinginkan dan berhasil atau tidaknya
ditentukan dari sumber daya manusia itu sendiri.
Sumber  daya  manusia  yang  dimiliki  organisasi  memiliki  berbagai
karakteristik,  termasuk  kemampuan/profesionalitas  kerja,  motivasi  dan  kinerja
yang dimilikinya. Ketiga komponen tersebut sangat berkaitan dan berada dalam
diri  pegawai  yang  melaksanakan  tugas  sehari-hari. Sehingga  kemampuan  atau
sumber daya manusia sangat penting.
Oleh  karena  itu, sumber  daya  manusia adalah karyawan  atau  pegawai yang
terdapat dalam sebuah organisasi yang dimana harus dikelola secara efektif dan
3
efisien supaya menjadi sebuah organisasi yang efektif dan efisien dalam mencapai
tujuannya. Dan untuk menghasilkan tenaga yang profesional, maka berbagai hal
perlu diperhatikan. Seperti pengelolaan sumber daya manusia melalui pendidikan
dan pelatihan untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang professional. Sumber daya
manusia  yang  profesional  akan  melahirkan  sebuah  kinerja  yang  efektif  dan
efisien, sehingga memberikan hasil yang maksimal.
Sebagaimana tercantum dalam UU No. 43 Tahun 1999 Perubahan atas UU
No. 8 Tahun 1974 Tentang Pokok–Pokok Kepegawaian Pasal 31 ayat (1),  yang
berbunyi  “Untuk  mencapai  daya  guna  dan  hasilguna  yang  sebesar–besarnya
diadakan  pengaturan  dan  penyelenggara  pendidikan  dan  pelatihan  jabatan
Pegawai Negeri yang bertujuan untuk meningkatkan pengabdian, mutu, keahlian,
kemampuan,  dan  keterampilan.” Pendidikan  dan  pelatihan  merupakan  kegiatan
pengembangan  sumber daya  manusia  untuk  meningkatkan  kemampuan  pegawai
atau aparatur di luar kemempuan di bidang pekerjaan atau jabatan yang dipegang,
sebab pendidikan pegawai dirancang atau disesuaikan dengan posisi baru, dimana
tugas–tugas dilakukan memerlukan kemampuan–kemampuan khusus yang lain
dari yang mereka miliki sebelumnya, dengan demikian tujuan pendidikan pegawai
yakni untuk mempersiapkan pegawai dalam menempati posisi atau jabatan baru,
terutama dalam bidang pengelolaan kepegawaian  yang professional begitupun
dalam hal proses pelayanan publik.
Pengembangan sumber daya manusia merupakan keharusan mutlak baik
untuk  menghadapi  tuntunan  tugas  sekarang maupun  untuk  menjawab  tantangan
masa depan. Upayah pengembangan dapat dilakukan melalui organisasi itu sendiri
4
maupun  luar  organisasi. Dengan pengaturan  manajemen  sumber  daya manusia
secara  profesional,  diharapkan  pegawai  dapat  bekerja  produktif  dan  memiliki
kinerja yang tinggi. Dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia ini, maka
diharapkan dapat memberikan suatu kontribusi yang maksimal sebagaimana yang
diharapkan, terutama dalam hal pelayanan publik.
Pelayanan  publik  merupakan  suatu kewajiban  bagi  para  penyelenggara
atau  apratur  negara  yang  bergerak  di  wilayah  pelayanan  publik  dalam
memberikan  pelayanan  yang  baik  kepada  masyarakat.  Namun,  dalam  proses
pelaksanaan pelayanan publik pada masyarakat tersebut tidaklah mudah. Banyak
permasalahan  serius  yang  kemudian  muncul  dan  dihadapi  oleh
organisasi,misalnya  adanya  kesalahan  manajemen  atau  kesalahan  operasional,
sehingga organisasi  tersebut  jadi  kurang  produktif  atau  macet  sama  sekali.
Akibatnya  pekerjaan  banyak  yang  terbengkalai  sehingga  berdampak  pada
masyarakat.
Dalam mencapai pelayanan publik yang baik, maka profesionalme kerja
pegawai merupakan faktor yang paling urgen. Dimana, profesionalisme adalah
cikal  bakal  dari  tercapainya  suatu  pelayanan  publik  yang  baik.  Oleh  karena  itu,
profesionalisme sumber daya aparatur harus menjadi fokus perhatian oleh pihak
terkait. Karena, semakin tinggi kualitas sumber daya aparatur yang ada, maka
semakin baik pula kinerja yang dihasilkan terutama dalam hal pelayanan publik.
Mengingat  jumlah  penduduk  Kabupaten  Bone  yang  merupakan  salah  satu
Kabupatenterbesar  yang  ada Sulawesi  Selatan,  sebagaimana  informasi  yang
dikutip  www.Google.com  yang  berjudul  “Bone  dalam  Angka”  yang
5
menempatkan  Kabupaten  Bone  sebagai  salah  satu  Kabupaten  dengan  jumlah
penduduk 717.268jiwa (2010). Kabupaten Bone sebagai salah satu daerah yang
berada  dipesisir  timur  Sulawesi  Selatan  memiliki  posisi  strategis  dan  secara
administratif terdiri dari 27 Kecamatan, 333 Desa dan 39 Kelurahan. Sehingga
wajarjika Kabupaten Bone dengan luas daerah dan jumlah penduduk yang begitu
banyak  maka  sangat  wajar  apabila  Kantor DISDUKCAPIL  Kabupaten  Bone
termasuk salah satu kantor yang paling ramai dikunjungi oleh warga masyarakat
di  karenakan  Kantor DISDUCAPIL  Kabupaten  Bone merupakan  satu-satunya
kantor yang mengurusi tentang kepentingan masyarakat.
Oleh  karena  itu,  manajemen  kepegawaian  suatu  organisasi/instansi
sangatlah penting sebagai tolak ukur efektif atau tidaknya organisasi tersebut.
Artinya dalam rangka memajukan organisasi yang bersangkutan, sehingga kinerja
yang  dihasilkan  maksimal  maka  profesionalisme  kerja  aparatur  haruslah
kompeten dalam bidangnya masing-masing. Seperti, kompetensi dalam bidang
keuangan dan administratif.
Namun,  berdasarkan  observasi  awal  peneliti  bahwa  tingkat
profesionalisme  kerja  pegawai  atau  aparatur  pemerintahan  di  Kantor  Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bone masih kurang atau dengan kata
lain masih jauh dibawah harapan mengenai pelayanan publik yang efektif dan
efeisien.  Karena  berdasarkan  pengamatan  yang  telah  penulis  lakukan  bahwa
masih  banyak  pegawai  di  Kantor  DISDUKCAPIL  Kabupaten  Bone  yang
memiliki  kemampuan  masih  dibawah  rata-rata.  Artinya  pegawai  atau  aparatur
pemerintahan  yang  ada  di  kantor  tersebut  masih  banyak  yang  kurang  paham
6
mengenai  konsep  pelayanan  yang  baik.  Dimana,  masih  terjadi  tumpang  tindih
pertanggungjawaban atas pelayanan yang akan diberikan. Terkadang pelayanan
terpusat  pada  satu  orang  saja,  sehingga  proses  pelayanan  tidak  efektif  yang
semestinya pelayanan yang diberikan bias selesai pada satu atau dua hari, namun
harus tertunda hingga satu minggu.
Efektivitas  pelayanan  di  Kantor  DISDUKCAPIL  Kabupaten  Bone  tidak
bias  tercapai  secara  maksimal  karena  persoalan  tersebut  diatas.  Dimana,
pelayanan  publik  yang  diberikan  masih  bersifat  tradisional.  Artinya,  pelayanan
masih berdasarkan atas siapa dia, dari mana dia dan sama siapa dia. Hal ini
menunjukkan bahwa tingkat pelayanan yang ada di Kantor tersebut tidak efektif,
karena  para  pegawai  atau  aparaturnya  yang  tidak  secara  professional  bekerja
dalam  melaksanakan  tugas  dan  tanggung  jawab  mereka  dalam  memberikan
pelayanan publik.
Dan  hal  ini  menunjukkan  bahwa  kinerja  pegawai  atau  aparatur
pemerintahan  di  Kantor  DISDUKCAPIL  Kabupaten  Bone  masih  kurang
masksimal, sehinggah tingkat pelayanan yang diberikan masih kurang efektik dan
masih  banyaknya  pegawai  yang  tidak  tahu  mengenai  konsep  pelayanan  publik
yang baik (tidak professional).
Oleh  karena  itu,  melalui  penelitian  ini  maka  peneliti  berharap  dapat
menemukan  solusi  yang  tetap  untuk  permasalahan  yang  di  hadapi.  Sehingga, di
kemudian  hari  masyarakat  mendapatkan  pelayanan  yang  maksimal  dan
memuaskan.
7
Berdasarkan  latar  belakang  yang  telah  diuraikan  di  atas,  maka penulis
menarik  kesimpulan  untuk  proposal  penelitian  ini  yang  berjudul“Pengaruh
Profesionalisme Kerja Pegawai Terhadap Efektifitas Pelayanan Publik di
Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bone”
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan  dari  latar  belakang  diatas,  maka  peneliti  dapat  menarik
rumusan masalah sebagai berikut :
1.  Bagaimana  Profesionalisme  Kerja  Pegawai  di  Kantor  Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bone?
2.  Bagaimana Efektivitas Pelayanan Publik di Kantor Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Kabupaten Bone?
3.  Bagaimana Pengaruh Profesionalisme Kerja Pegawai Terhadap Efektivitas
Pelayanan  Publik di  Kantor Dinas  Kependudukan  dan  Catatan  Sipil
Kabupaten Bone?
C.  Tujuan Penelitian
Berdasarkan  dari  rumusan  masalah  diatas,  maka  dapat  dikemukakan
tujuan penelitian yaitu :
1.  Untuk mengetahui bagaimana pengaruh profesionalisme kerja pegawai di
Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bone.
2.  Untuk  mengetahui  bagaimana efektivitas  pelayanan  publik  di  Kantor
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bone.
8
3.  Untuk  mengetahui bagaimana  pengaruh  profesionalisme  kerja  pegawai
terhadap efektivitas pelayanan publik di Kantor Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Kabupaten Bone.
D.  Kegunaan Penelitian
1.  Kegunaan Teoritis
Dengan  adanya  penelitian  ini, maka  penulis  berharap dapat  menambah
wawasan  dan  pengetahuan  serta  merupakan  upaya  untuk
mebandingkanantara  teori  yang  diterima  dibangku  kuliah  dengan
prakteknya di dalamorganisasi atau instansi.
2.  Kegunaan Praktis
Dengan adanya penelitian ini, maka penulis berharap dapat menjadi salah
satu referensi ilmiah dan bahan masukan yang positif bagi organisasi atau
instansi  terkait dalam hal meningkatkan  profesionalisme  kerja pegawai
yang di miliki demi menciptakan efektivitas pelayanan publik.